#009 Generasi A-E
Kelompok penduduk:-) muda, yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) berusia antara 16 dan 30 tahun, mencapai 27 persen dari 238 juta penduduk (2010). Sayangnya, belum seluruh penduduk usia produktif terserap lapangan kerja. Angka pengangguran penduduk muda hingga Februari 2014 masih 20,9% dari 53,7 juta angka angkatan kerja usia muda di Indonesia. Angka pengangguran ini lebih tinggi daripada rata-rata pengamgguran usia muda di Asia Tenggara (13,3%), dan Asia Timur (9,8%) (kompas, 23/08/2014).
Mari dianalisis secara sederhana saja. Analisis tentu terkait dengan pengembangan diri atau self improvement selama menempuh pendidikan.
Selama proses pendidikan hanya sisi pengisian pengetahuan dan menghafal serta menjawab soal-soal tes, ulangan, ujian.
Ditambah lagi model res, ulangan, ujian pilihan ganda. Model pilihan ganda sangat membonsai cara pikir, pola pikir generasi anak bangsa.
Energi cara pikir, pola pikir jika berdasar abjad A-Z lalu selama sekian kali ulangan, tes, ujian dibatasi A-E. Apa ini tidak membonsasi, mengkerdilkan cara pikir generasi anak bangsa. Tentu pengembangan diri atau self improvement pada pola pikir tidak terjadi.
Tentu generasi anak bangsa pada sisi pola pikir sudah jelas terbonsasi, maka berpikirnya pendek, terbatas hanya A-E. Diluar A-E tidak tahu, tidak ada.
Selama menempuh pendidikan kesempatan berpikir alternatif sangat sempit, maka kemampuan berpikir lain sangat kecil.
Tentu para lulusan jika tidak ada pekerjaan, jalan keluarnya adalah menganggur. Karena kan tidak ada lapangan pekerjaan. Saya menganggur bukan karena saya melainkan tidak ada pekerjaan. Itulah pola pikir generasi A-E.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar